Monday, July 27, 2009

Obat-Obat Penyebab Diare Pada Pasien Lanjut Usia

Diare adalah masalah yang sering terjadi pada pasien lanjut usia. pravelensi ini meningkat dengan bertambahnya umur, kemampuan fungsi tubuh yang menurun, dan obat-obat yang digunakan. Pengamatan adanya diare trsebut dan komplikasi pada pasien lanjut usia membutuhkan pencegahan. Salah satu diantaranya yitu dengan menghindari obat yang menyebakan diare akan bermanfaat secara klinik.

Beberapa studi klinik melaporkan bahwa diare pada pasien lanjut usia yang disebabkan obat sangat erat berhubungan. Ini berkaitan dengan kualitas hidup dan status fungsi yang berhubungan dengan individu, sehingga menyebabkan inkonsistensi fecal, tingkat kejadian yang tinggi, dan yang berbahaya bisa menyebabkan kematian.

Lebih dari 700 obat yang diimplikasikan sebagai penyebab diare. Di dalam populasi pasien lanjut usia, obat-obat yang terkait menimbulkan diare, selain dengan obat antidiare. Obat yang menyebabkan diare yaitu obat antimikroba, proton pump inhibitor (PPI), allopurinol, psycholeptics, garam besi, digoxin, angiotensin II receptor blockers (ARB), kortikosteroid, I-thyroxin, antibiotik, nonsteroid anti-inflamatorory drugs (NSAID), dan selective seretonin reuptake inhibitors (SSRI), dan obat untuk penyakit obstruktif saluran pernapasan.

Beberapa Mekanisme penyebab diare yang berhubungan dengan obat tesebut terjadi karena bisa mempengaruhi pertahanan saluran pencenaan, kerusakan mukosal usus kecil dan besar, dan atau gangguan dari proses normal patofisiologi dari cairan dan absorpsi dan sekresi elektrolit.

Menurut Penelitian dari obat yang disebutkan diatas, pravelensi penggunaan antibiotik yang menyebabkan diare adalah 20%. Antibiotik-Associated Diarrhea merupakan efek samping yang sering terjadi dari terapi menggunakan antibiotik. Terapi dengan antibiotik, khususnya menggunakan agen spektrum luas akan mempengaruhi microflora alami usus. Untuk itu, penggunaan antibiotik pada pasien lanjut usia harus disesuaikan dengan kebutuhan atau hanya untuk membunuh bakteri yang menginfeksi.


Sumber: Berbagai Sumber dan The American Journal of Gastroenterology.

Menjaga Keseimbangan Flora usus dengan Probiotik

Bakteri Flora usus sangat sering Mengalami ketidakseimbangan. Ini terjadi karena banyak hal, dimulai dari yang ringan sampai parah, dan biasanya adalah hasil dari gejala mual, diare dan sakit perut. kasus penyebab lainnya adalah infeksi virus, asupan makanan yang buruk, keurangan gizi, berbagai bakteri pathogen dan penyakit pendarahan usus.

Bakteri mikroflora biasanya terbatas, tetapi tidakan yang tidak tepat dari infeksi akut dapat menyebabkan kasus yang lebih parah. lebih jauh, komplikasi yang sering terjadi adalah dehidrasi.

Di dunia, jutaan peduduk baik anak-anak dan dewasa terjadi gangguan masalah ketidakseimbangan ini. Di negara berkembang seperti indonesia, sanitasi yang belum optimal, bakteri pathogen akan menginfeksi bakteri flora usus sehingga dapat berkembang dan menyebabkan kematian.

Keseimbangan bakteri flora usus akan menguntungkan kesehatan. salah satu cara alami dalam menjaga keseimbangan adalah probiotik.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dapat membatu microflora untuk berkembang dan bermetabolisme. Penggunaan probiotik dalam menjaga keseimbangan flora usus tersebut bisa terjadi dari bermacam mekanisme.

Beberapa aksi probiotik yaitu dapat membantu memproduksi senyawa yang dapat menghambat dan merusak bakteri pathogen, mereka dapat juga menurunkan pH usus karena menstimulasi susu asam, dan mereka juga memproduksi senyawa untuk pertumbuhan bakteri flora usus.

Konsumsi probiotik adalah cara sehat dan alami untuk menjaga keseimbangan bakteri flora usus.


Sumber: Berbagai Sumber dari Journal Gastroenterology